Fasade Desain Rumah Mungil Wajah Kita

Fasade Desain Rumah Mungil berasal dari kata faccia dalam bahasa latin, facciata dalam bahasa Italia, dan face dalam bahasa Inggris.

 

Semuanya berarti wajah atau muka, yaitu sisi depan kepala kita. Demikian pula bagi sebuah bangunan gedung.

 

Di sisi depan bangunan gedung Desain Rumah Mungil tersebut kita ingin mempunyai fasade yang istimewa, yang representatif, trendy, fashionable, up-to-date, kontemporer atau yang sedang in atau tren. Hal ini disebabkan karena kita tidak mau disebut ketinggalan jaman. Kita selalu ingin berada di garis terdepan kemajuan masyarakat.

 

Sejarah representasi wajah Desain Rumah Mungil. Di eropa masa silam, tepatnya pada zaman renaissance, beberapa arsitek Desain Rumah Mungil hanya mengolah sisi depan bangunan gedung sedangkan sisi-sisi lainnya tidak. Mereka memperlakukan dinding muka bangunan gedungnya seperti topeng yang menutupi seluruh bagian yang terletak di belakangnya. Dinding Desain Rumah Mungil tersebut kemudian digarap berdasarkan proporsi yang setara dengan wajah manusia. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya dindingnya dibuat cembung dan cekung sehingga lebih mendekati kenyataan wajah manusia. Tradisi tersebut sempat menyurut, tetapi kemudian muncul kembali sekitar tahun 1920 melalui aliran seni baru (art nouveau). Para arsitek Desain Rumah Mungil menciptakan tampak depan bangunan gedung menyerupai mata dan mulut makhluk yang menyeramkan untuk menampilkan sebuah wajah bangunan Desain Rumah Mungil yang lain daripada sekitarnya sehingga mudah dikenali dan diingat masyarakat.

 

Teknik tersebut juga muncul lagi sekitar tahun 1980 ketika wacana arsitektur Desain Rumah Mungil tengah dipengaruhi alam pemikiran baru yang disebut arsitektur pasca-modern. Alam pemikiran baru yang tersebut mengetengahkan sebuah teori bahwa karya arsitektur Desain Rumah Mungil bukan sekedar sebuah objek estetik, melainkan juga merupakan sejenis bahasa bermakna ganda. Karya arsitektur Desain Rumah Mungil kembali menampilkan dirinya sebagai sebuah wajah, dengan elemen-elemen fungsional seperti pintu, jendela, talang air, dan teritisan sebagai unit-unit yang mempresentasikan wajah manusia. Talang air atau pintu dapat mepresentasikan hidung, jendela berwujud lingkaran untuk mepresentasikan mata, sedangkan teritisan dapat menjadi alis, mulut, atau kuping.

 

Namun, cara tersebut akhirnya juga ditinggalkan karena dinilai mengada-ada Desain Rumah Mungil. Kemudian disuatu waktu di eropa di masa silam, yaitu dalam periode neo-klasik, muncul sebuah tradisi yang menyamakan bangunan gedung dengan tubuh manusia. Gagasan bangunan Desain Rumah Mungil dengan demikian dibuat dalam 3 bagian, yaitu alas, badan dan mahkota yang dipadu-padankan satu sama lain agar selaras dan serasi. Teknik perancangan Desain Rumah Mungil seperti itu dianggap liberal, yaitu memberi kebebasan kepada arsitek Desain Rumah Mungil dan pemilik bangunan untuk menentukan sendiri gaya-gaya bangunan yang mereka sukai untuk diterapkan. Sebab itu tidak mengherankan apabila dalam periode ini terdapat demikian banyaknya varian gaya bangunan Desain Rumah Mungil, yang boleh dikatakan terbanyak dalam sejarah arsitektur eropa.

 

Di pihak lain terdapat tradisi mengolah tampak depan bangunan gedung Desain Rumah Mungil yang bertitik tolak dari prinsip lain, yaitu rasionalitas geometrik. Sasaran utama pengolahan fasade bangunan gedung Desain Rumah Mungil adalah menyajikan sebuah komposisi geometrik rasional yang sedap dipandang. Beragam wujud dan ukuran jendela Desain Rumah Mungil misalnya, dirasionalisasikan menjadi satu wujud dan ukuran, demikian pula pintu-pintunya, ventilasinya, sampai wujud atapnya. Dengan demikian terdapat deretan unit-unit yang sama dan sebangun, yang selanjutnya diatur agar menghasilkan sebuah objek Desain Rumah Mungil berkomposisi geometris yang sedap dipandang dari sisi mana pun.

 

Bersamaan dengan itu muncul pula trens lain, yaitu menampilkan wajah bangunan gedung Desain Rumah Mungil yang mirip seperti rumah-rumah di pinggiran kota atau pedesaan. Semakin kasar dan primitif tampilannya semakin banggalah arsitek dan pemilik bangunan gedungnya karena merasa berhasil memperlihatkan diri sebagai seseorang yang mencintai segala sesuatu yang berbau alami. Citra Desain Rumah Mungil tersebut menjadi obsesi karena dinilai bergengsi tinggi dan mempresentasikan kadar kecendekiawan yang bersangkutan dihadapan kelompok masyarakatnya. Namun, seperti juga berbagai trend sebelumnya, yang ini pun akhirnya meluntur dan digantikan tren baru, yaitu arsitektur Desain Rumah Mungil modern.

 

Wajah arsitektur Desain Rumah Mungil modern. Berbeda dari pengolahan wajah-wajah bangunan gedung sebelumnya, arsitektur Desain Rumah Mungil modern memperlakukan semua sisi luar bangunan sebagai sebuah wajah. Artinya, wajah dari sisi-sisi luar tersebut harus saling selaras satu sama lain, harus ada hubungan yang harmonis. Sebab itu bangunan-bangunan gedung berarsitektur Desain Rumah Mungil modern kebanyakan tidak mau berimpit dengan bangunan gedung lainnya. Itu bukan untuk menyombongkan diri melainkan kiat supaya wajah dari semua sisinya terlihat. Keadaan ini memang merupakan kondisi ideal, meskipun pada kenyataannya tidak semua bangunan gedung Desain Rumah Mungil dapat dibuat terpisah dari bangunan gedung lainnya. Dalam situasi seperti itu cara yang biasa ditempuh adalah menyelaraskan wajah depan bangunan gedung Desain Rumah Mungil dengan wajah interiornya. Sebab itu furniture memegang peran penting dalam perancangan bangunan gedung berarsitektur Desain Rumah Mungil modern. Cara merancang seperti itu kemudian disebut total design yang marak dipromosikan sekitar tahun 70-an.

 

Produk gaya hidup. Desain fasade bangunan gedung Desain Rumah Mungil di Indonesia, khususnya rumah tinggal, tidak lepas dari semua trend diatas karena sebagai negara kepulauan kita sudah didatangi bangsa-bangsa lain sejak dulu kala. Sekarang, bangunan-bangunan gedung peninggalan mereka menjadi warisan budaya kita dan beberapa diantaranya kita lestarikan, sebagai bagian dari sejarah arsitektur Desain Rumah Mungil Indonesia.

 

Kini terdapat demikian banyaknya pilihan yang ditawarkan, sehingga kita sering bingung karena semua menawan. Akibatnya kita sering pula salah memilih seperti memilih terlalu banyak tawaran gaya hidup Desain Rumah Mungil yang sering bertabrakan satu sama lain. Hal itu semua terlihat dalam wajah bangunan-bangunan gedung Desain Rumah Mungil yang kita buat sendiri dewasa ini. Di satu pihak kita menginginkan fasade bangunan gedung Desain Rumah Mungil bergaya minimalis, namun kita mengisinya dengan furnitur etnik atau klasik. Sebaliknya, di satu pihak kita meminta arsitek Desain Rumah Mungil untuk merancangkan rumah bergaya klasik padahal kita hanya memiliki kaveling berukuran kecil sehingga aturan pembuatan fasadenya tidak sempurna.

 

Hal tersebut merupakan produk adopsi dari para pendatang baru dalam bentuk lain yaitu gaya hidup Desain Rumah Mungil, yang ditawarkan kepada kita sebagai bangsa yang merdeka dan bebas memilih mana yang disuka. Hal inilah yang perlu diwaspadai dan diantisipasi, yaitu dengan menggunakan jasa arsitek Desain Rumah Mungil atau pakar lain yang berkompeten, demi wajah arsitektur Desain Rumah Mungil kita, cerminan budaya Indonesia.