Desain Rumah Tinggal dan Penghuninya

Desain Rumah Tinggal berkaitan dengan penghuni, dibantu arsitek desain rumah tinggal.

 

Desain Rumah tinggal merupakan bangunan yang sangat erat berkaitan dengan penghuninya, sehingga pembicaraan mengenai desain rumah tinggal tidak ada habis-habisnya. Gejala ini oleh arsitek dilihat sebagai suatu perhatian kembali untuk menyimak life style keluarga-keluarga di Indonesia. Kalau rumah tinggal dimasa lalu hanyalah sebagai tempat berlindung dari iklim dan kondisi lingkungan, maka kini masyarakat kita telah menempatkan rumah menjadi semacam simbol status sosial yang dapat mencerminkan kehidupan sehari-hari.

 

Berbagai cara dilakukan oleh setiap keluarga untuk membuat desain rumah tinggal yang sesuai dengan gaya hidupnya. Dalam hal ini tentu sebaiknya mendapat masukan dari orang yang mengerti, seperti arsitek misalnya. Nampaknya peran arsitek rumah tinggal dalam hal ini masih kurang, terlihat dari beragamnya gaya desain rumah tinggal yang kini semakin banyak dan tidak jelas arahnya. Masing-masing individu nampaknya ingin menonjolkan pribadinya melalui rumah tinggal. Dan masih banyak arsitek rumah tinggal yang begitu saja mengikuti kemauan pemilik, tanpa memperhatikan keserasiannya. Sehingga muncullah berbagai gaya dan bentuk yang terlihat dicampur aduk begitu saja. Tapi tentunya kita mesti maklum, bahwa pribadi-pribadi yang ingin saling menunjukkan keberadaanya itu memang ada dan masih manusiawi, dalam arti merupakan sisi lain dari sifat manusia.

 

Keluarga masa kini sudah mengarah ke nucleus family, dimana anggota keluarga semakin berkurang, yaitu hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Dengan jumlah anggota keluarga yang semakin berkurang itu tentunya berpengaruh juga terhadap susunan denahnya. Namun pada dasarnya setiap keluarga itu memiliki aspirasi masing-masing untuk keluarganya. Rumah merupakan tempat berkumpul bagi setiap keluarga, sehingga seyogyanyalah rumah mencerminkan keakraban diantara anggota keluarga. Terutama di daerah urban kota, dimana setiap individu sudah mulai acuh terhadap lingkungannya. Di kota orang mungkin mendapat banyak godaan pengaruh. Misalnya saja, pengaruh dari luar, dari dalam, dari masa lampau dan dari manapun. Dengan demikian pengaruh inipun sangat berperan dalam menentukan bentuk rumahnya.

 

Sebenarnya rumah itu memiliki arti yang cukup dalam, sehingga tidak heran bila pepatah mengatakan rumahku istanaku. Rumah hendaknya tidak hanya diartikan sebagai fisiknya saja (house) tapi memiliki nilai-nilai khusus yang terkandung didalamnya (home). Masih banyak rumah-rumah yang belakangan ini hanya mementingkan house-nya saja, tanpa memperhatikan content home-nya. Kalau melihat tingginya kebutuhan akan bidang perumahan maka tidak heran jika content home-nya tidak diperhatikan. Padahal untuk rumah-rumah sederhanapun content home harus diperhatikan. Sekarang ini nampaknya sudah banyak real estate yang berlomba-lomba menunjukkan content home-nya. Rumah-rumah yang ditawarkan semakin manis dan diusahakan untuk membuat penghuninya kerasan didalamnya. Gejala positif ini tentunya perlu ditunjang dengan sikap penghuni terhadap rumahnya. Sehingga rumah itu tidak hanya sekedar bangunan yang mewah tapi dingin, melainkan dapat memberikan keakraban dan kehangatan bagi seluruh anggota keluarga.

 

Melihat gaya desain rumah tinggal yang beraneka itu terjadi karena gaya rumah tinggal masa kini masih dalam masa transisi, perkembangan masyarakat yang pesat sekali. Tradisi terjadi pada profil keluarga indonesia yang semula begitu erat terkait dengan tradisi suku masing-masing. Dikota besar, sedikit demi sedikit keterkaitan akan suku masing-masing semakin menipis karena pengaruh-pengaruh lingkungan. Dengan demikian semakin beragamlah gaya desain rumah tinggal tersebut, terutama untuk rumah tinggal kalangan menengah atas, sementara golongan lemah tetap bergulat dengan kesehariannya dengan ‘rumah kardusnya’ yang menghias sisi lain wajah kota.

 

Perubahan akan gaya-gaya desain rumah tinggal kita masih akan terus terjadi. Masa transisi yang dikatakan akan terus berlanjut dan sambil berjalan dapat diamati. Perubahan itu akan harapan suatu saat nanti akan muncul sebuah gaya desain rumah tinggal yang benar-benar sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia dan dapat dipertanggungjawabkan pada setiap aspek. Untuk masa datang perlu dipelajari bagaimana sebenarnya membuat rumah itu. Suatu saat mungkin pembagiannya lain lagi, ada rumah perkotaan dan ada rumah pedesaan. Mungkin ada juga rumah perkotaan yang bersusun, bersusun padat ataupun rumah sendiri-sendiri. Hendaknya memang dapat dicari mana yang dapat memberi jawaban akan kebutuhan perumahan. Selain itu perlu pula diperhatikan quality of life disamping quality of building. Dengan quality of life ini maka rumah akan terasa sebagai home, yang akrab dengan penghuninya dan menjadi tujuan untuk pulang setelah seharian menghabiskan waktu di tempat kerja.

 

Bahwa rumah sebaiknya tidak hanya sebagai house melainkan juga sebagai home. Untuk kalangan menengah bawahpun diperlukan content home, karena rumah yang diidamkan setiap keluarga tentunya yang nyaman dan menyenangkan. Rumah yang telah dihuni diharapkan dapat mencerminkan suasana keakraban keluarga dan ini tentunya dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti pekerjaan kepala keluarga, hobby, dan kebiasaan-kebiasaan keluarga tersebut. Misalnya keluarga yang menyukai olahraga, maka dinding-dinding rumahnya akan dipenuhi oleh poster atau foto bintang olahraga pujaannya ataupun medali-medali yang diperolehnya.

 

Gaya desain rumah tinggal yang beraneka itu tentunya tidak nampak pada rumah golongan menengah bawah, karena berbagai batasan, seperti dana, misalnya. Juga rumah yang dibuat untuk golongan menengah bawah secara massal tidak direncanakan khusus untuk keluarga-keluarga tertentu. Penghuni masuk setelah rumah itu selesai, sehingga penghunilah yang harus menyesuaikan diri dengan rumahnya. Merencanakan rumah secara massal memang tidak dapat secara spesifik khusus digunakan oleh sebuah keluarga, seperti bila membuat rumah dengan pesanan khusus, dimana arsitek dapat memasukkan unsur-unsur kebiasaan dan gaya hidup keluarga didalam rancangannya. Pertimbangan dalam membuat rumah massal memang hanya secara umum saja, yang diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal keluarga di Indonesia, tentunya dengan studi terlebih dahulu.

 

Berbagai upaya dapat dilakukan dalam membuat rumah untuk tingkat menengah bawah, agar dapat dicapai rumah yang homely. Ada rumah yang dibangun sampai selesai dan penghuni tinggal masuk sambil melengkapi assesorisnya. Ada pula sistem yang dikenal dengan rumah tumbuh, dimana yang dibangun hanya rumah inti saja kemudian secara bertahap dapat dibangun lagi sesuai dengan perkembangan usia keluarga. Cara lain adalah dengan membangun struktur dan rangka serta beberapa dinding saja. Bagian-bagian lain dapat disesuaikan dengan keinginan calon penghuninya. Dalam hal ini kemungkinan pembagian denah ruang-ruangnya dapat disesuaikan dengan gaya hidup dan kebiasaan-kebiasaan keluarga.

 

Arsitek rumah tinggal dapat membuat layanan bantuan arsitektur bagi kalangan bawah, tidak hanya dilakukan dikota besar tetapi sampai ke wilayah desa. Sehingga akan didapat rumah yang benar-benar baik dan tentunya sehat. Kalau arsitek-arsitek mau berbuat demikian, maka manfaatnya akan banyak dirasakan oleh banyak orang, karena memang kita semua tahu bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih berada pada tingkat menengah bawah.

 

Penampilan bangunan bernafaskan tradisi karena adanya suatu ide menyelaraskan bentuk-bentuk tradisional untuk bangunan modern. Pola peninggalan lama diterapkan dengan memperkaya pertimbangan iklim tropis. Juga dinilai penataan ruang dalam dan ruang luarnya cukup seimbang. Desain ini dapat lebih baik bila ditambah teras-teras sebagai ruang peralihan antara ruang dalam dan ruang luar yang telah tertata baik.

 

Untuk rumah kalangan atas sebenarnya dapat dikembangkan seluas dan sebebas mungkin karena tidak adanya batasan dana. Sedangkan untuk rumah-rumah golongan menengah bawah perlu dipertimbangkan biayanya agar didapat rumah yang memang sesuai dengan tingkat keterjangkauan penghuninya.

 

Desain rumah tinggal belakangan ini, sudah mulai nampak kearah country. Kelihatannya sudah ada kerinduan akan bahan-bahan yang murni. Ini menunjukkan akan adanya suatu keinginan pada keakraban. Dan rumah country itu homely, sehingga kekhawatiran akan rumah yang hanya sekedar house saja tidak perlu lagi. Namun tren gaya rumah masa kini nampaknya memang masih belum jelas.

 

Dalam hal konsep memang telah terjadi pergeseran-pergeseran denah. Ini terjadi karena perbedaan keluarga sekarang dengan persepsi keluarga masa lalu. Kalau dulu ibu rumah tangga dengan senang hati di “penjara”kan di rumah, maka kini ibu rumah tangga sudah banyak yang mempunyai suatu profesi sendiri. Ada gejala bahwa ibu yang keluar rumah setiap hari untuk melakukan suatu pekerjaan sudah bukan hal “aneh” yang mungkin tak pernah terpikirkan pada masa lampau. Namun, dengan kondisi demikian, rumah diharapkan tetap teratur, tenaga pembantu lebih efisien dan keharmonisan keluarga tetap terjamin. Dengan perubahan-perubahan itu, ternyata telah menggeser denah. Dapur yang semula diletakkan dibelakang rumah dan menjadi daerah “tabu” bagi kepala keluarga, kini sudah ditarik ke dalam sehingga ruang-ruang yang ada semakin kompak dan efisien. Ibu dapat mengerjakan pekerjaan di dapur dengan didampingi bapak sambil mengawasi anak-anak yang sedang bermain atau belajar. Perubahan lain terjadi pada ruang tamu. Kalau dulu kita mempunyai dua ruang representasi, para pria menerima tamu di depan dan para ibu dibelakang. Kini hal itu sudah mulai ditinggalkan. Sudah umum ruang tamu hanya ada satu untuk setiap keluarga.

 

Bagaimanapun rumah tinggal memang tidak lepas dari penghuninya. Kehidupan sebuah rumah sangat tergantung pada penghuninya, sehingga rumah yang baik adalah rumah yang tentunya dapat memberikan kehidupan jasmani dan rohani yang sehat bagi penghuninya. Namun rumah itu tentunya tak bisa berdiri sendiri, melainkan hidup dalam lingkungan yang kuat sehingga diperlukan keserasian lingkungan. Rumah yang baik itu memberikan nilai tambah terhadap lingkungannya, asri, serasi sehingga tidak terjadi polusi pandangan, selain tentunya harus nyaman.